Langsung ke konten utama

Memandang PSK bukan dari norma, agama, dan lingkungan tetapi dari eksistensi manusia itu sendiri.





Jean-Paul Sartre, melukiskan eksistensi sebagai sebuah keberadaan manusia yang konkret, sekarang dan di sini. Ia mengetengahkan dua gagasan sehubungan dengan definisinya ini, yakni pour-soi (for-itself) dan en-soi (in-itself). 

Artinya, ia melihat keberadaan manusia yang konkret sekarang dan di sini, dapat menjadi pour-soi, artinya menjadi subjek dimana ia menjadikan segala sesuatu bagi dirinya atau untuk dirinya (for-itself), dan juga menjadi en-soi, artinya dijadikan objek karena sesuatu di kenakan pada dirinya / identik (in-itself).

Eksistensi manusia terIetak pada pour-soi ketikaia menjadi subjek dan bebas memperlakukan segala sesuatu bagi dirinya. 
Namun pada akhirnya, ia pun sadar betapa kebebasan itu serta keberadaanya dapat saling bertentangan secara rasional satu sama lain. Ketika manusia berusaha menjadi pribadi yang bebas (for-itself), ketika itu juga manusia memiliki hasrat untuk “menjadi” / mencapai identitas yang diiinginkan itu (in-itself).

Dengan berdasarkan penjelasan jean-paul satre saya menyimpulkan, maka yang dimaksud dengan Eksistensi adalah suatu keberadaan atau keadaan dan kebebasan. Pada individu eksistensi adalah suatu keberadaan dan keadaan yang dipilih dengan berdasarkan kebebasan individu itu sendiri dan dimana batas kebebasan individu adalah ketika tidak bertantangan dengan kebebasan individu lain.

Disini saya mencoba melihat Eksistensi pada PSK. eksistensi pada PSK terlihat pada keberadaan, profesi dan pilihan mereka menjadi PSK. Berprofesi menjadi PSK penuh resiko, Hina dan cemohan akan selalu datang dari berbagai ragam individu dan kelompok dari masyarakat. Dan semua tindakan masyarakat akan selalu di benarkan karena masyarakat selalu memandang mareka dari kacamata norma-norma, agama dan lingkungan.

PSK adalah para pekerja yang bertugas melayani aktivitas seksual dengan tujuan untuk mendapatkan upah atau imbalan imbalan dari yang telah memakai jasa mereka tersebut.

melihat PSK dalam prespektif  Eksistensi tidak memandang keberadaan PSK dari sudut pandang norma-norma, agama dan lingkungan melainkan dan sebagainya melihat/memandang mareka dari pilihan-pilihan mareka sendiri sebagai PSK. Berdasarkan akan pilihanya pada kebebasan “Eksistensi” individu bebas akan pilihanya dan bertanggung jawab pada kehidupanya sendiri.
Dengan berdasarkan pengertian dan penjelasan dari Eksistensi, adalah sebuah pemikiran yang tidak berdasarkan pada nilai-nilai sosial dan agama, tetapi eksistensi adalah sebuah pemikiran yang berdasarkan kebebasan dalam memilih keberadaanya dan bertanggung jawab akan keberadaanya.

Disini saya juga mengatakan bahwa berprofesi menjadi PSK adalah sebuah keputusan dimana individu mengubah dirinya sendiri dengan setuasi dituntut untuk mengubah keadaan hidupnya tanpa ada orang lain menolong. dengan berdasarkan penjelasan sebelumnya penulis memberikan contoh, sebagai dalam pemahamana Eksistensi PSK;


A berasal dari keluarga miskin dengan keterbatasan keuangan. dan sejak kecil A tidak diberikan pendidikan yang kurang baik, tetapi A mempunyai fisik dan wajah yang baik. Kebutuhan setiap hari selalu bertambah, A tidak bisa lagi mencukupi kebutuhanya, dengan mencari pekerjaan, A tidak mempunyai skill dan pendidikan yang baik sehingga timbul di dalam dirinya untuk menjadi seorang “pelacur” dengan bayaran yang menggiurkan, Dan ketika A sudah berprofesi menjadi PSK disinilah Eksistensi A tersebut. Sebagian masyarakat pasti tidak setuju pada profesi A yang melanggar nilai dan norma-norma dalam masyarakat. tapi, apakah nilai dan norma-norma tersebut bisa mencukupi kebutuhan individu si A dalam kehidupanya ? inilah Realita yang terjadi pada PSK.
 




Komentar